TRANSPARANSI INFORMASI PAYLATER DAN PERILAKU KONSUMTIF: DAMPAK SOSIAL TERHADAP KELOMPOK RENTAN DI INDONESIA
DOI:
https://doi.org/10.61553/abjoiec.v4i01.1101Keywords:
Buy Now, Pay Later (BNPL), Transparansi Informasi, Perilaku Konsumtif, Konsumen Retan, Asimetri InformasiAbstract
Layanan Buy Now, Pay Later (BNPL) di Indonesia berkembang pesat seiring penguatan regulasi yang mewajibkan transparansi informasi. Namun, penelitian terdahulu cenderung memisahkan aspek regulasi, perilaku konsumen, dan dampak sosial, sehingga efektivitas mandatory disclosure, mekanisme behavioral economics, serta konsekuensi BNPL terhadap kelompok rentan masih belum terintegrasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis keterkaitan transparansi informasi, perilaku konsumtif, dan dampak sosial BNPL di Indonesia melalui integrasi Teori Asimetri Informasi, Technology Readiness and Acceptance Model (TRAM), Behavioral Economics/Choice Architecture, dan kerangka evaluatif SDGs. Penelitian menggunakan metode kualitatif library research dengan pendekatan narrative literature review terhadap sumber dari Google Scholar, Scopus, ScienceDirect, dan Garuda. Data dianalisis menggunakan content analysis melalui pengodean tematik dan triangulasi temuan domestik, bukti empiris internasional, serta dokumen regulasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa transparansi formal belum selalu menghasilkan pemahaman substantif konsumen, sehingga asimetri informasi tetap dapat terjadi. Kondisi tersebut membuka ruang bagi bias kognitif, seperti present bias, anchoring, mental accounting, dan berkurangnya pain of paying, yang dapat mendorong perilaku konsumtif, terutama pada kelompok dengan literasi keuangan terbatas. Dampaknya berupa peningkatan risiko utang tersembunyi dan beban sosial yang lebih besar pada kelompok rentan. Penelitian ini menawarkan model rantai kausal-siklis yang menghubungkan regulasi, transparansi, mekanisme perilaku, dan dampak sosial, serta merekomendasikan pergeseran regulasi dari disclosure menuju comprehension dan behavioral safeguard. Model ini tetap memerlukan pengujian empiris lebih lanjut



